Kamis, November 01, 2007

Pekerja Sub Urban Kurang Gaul di Kantor

Salam Highlander,

Benar apa yang dikatakan bahwa para pekerja Sub Urban di jakarta, kebanyakan kurang gaul dengan temak sejawat. Ya gimana lagi yak. Mita yang berangkat bekerja ke kantor harus pagi2 sekali agar tidak terjebak macet dan sampe di kantor tidak terlambat, itupun sampe di kantor pas beberapa menit menjelang lagu ‘selamat pagi’ atau bahkan udah masuk injury time alias ‘pleki’. Maklum rumah-rumah kita kebanyakan di daerah sub-urban yang relatif memakan waktu dalam mencapai kantor. Di kantorpun kita subuk dengan tugas masing-masing demi nusa-bangsa dan negara dengan lokasi yang tidak satu gedung.

Waktu istirahat kebanyakan pada punya urusan priadi masing-masing,
- ada yang ke bank untuk setor deposito,
- ada yang buka-buka internet cari informasi dan wawasan untuk menambah performance diri,
- ada yang ke Masjid untuk sholat dan mendengarkan tausyiah untuk mempertebal iman,
- ada yang diundang makan-makan rekan sejawat demi memperkokoh partnership,
- ada yang cari sepatu ke mall karena sepatu yang dipake tiap hari ngejar bus, solnya udah tebal sebelah,
- ada yang memanfaatkan untuk ‘bobo siang’, mengikuti anjuran dan juga mempraktekkan hasil survey tentang pentingnya tidur di siang hari selain juga karena ngantuk karena bangunnya terlalu pagi,
- ada yang olah raga ringan misal pingpong atau fitness untuk menambah kebugaran dan penyegaran otak, dll.dll.

Pulangpun begitu. Kebanyakan pada buru-buru keluar tatkala sangkakala pertanda waktu pulang kantor dibunyikan, supaya tidak terjebak macet dan bisa lekas sampe di rumah dan berkumpul dengan belahan jiwa dan si buah hati. Terlebih pada musim hujan kayak gini, bila hujan turun di sore hari, kemacetan pasti terjadi.

Tapi itu bukan alasan si sebetulnya untuk tidak berinteraksi satu sama lain. Berinteraksi lebih kita lakukan dengan teknologi, baik telp, email, atau saling lempar botol minumah… salah satu kesempatan beinteraksi yang sering terjadi adalah tatkala kita sama-sama punya kesempatan (sebaiknya disempatkan) datang ke Masjid Baitul Ikhsan. Di sana kita bisa bertemu dengan rekan sejawat, dan tentunya seiman untuk sekedar say hello atau berdiskusi dan bercerita, sambil terkantuk-kantuk mendengarkan tausyiah dari Da’I kondang yang didatangkan oleh ustadz Arik. Ato pas makan siang di kantin atau di warung-warung sekitar wisma adi upaya, juga pas jalan-jalan di gang sebelah gedung ex-BDN untuk mencari sesuatu yang aneh sekaligus ikut membantu mengembangkan UMKM, he… he…

So… seandainya hidup bisa memilih…., barangkali kita yang lama hidup di KP membayangkan teman-teman yang ada di KBI yang bisa menikmati hidup dan bisa berinteraksi lebih senergis dengan banyak orang. Tapi mungkin juga sebaliknya….

Ya begitulah, yang penting kita harus mensyukuri dengan apa yang kita dapat dan menjalankan apa yang telah dilakonkan kepada kita. Karena hanya dengan itulah kita bisa lebih syukur akan nikmat dan mudah2an nikmat itu akan ditambah, Amien.

Mohon maaf bila kepanjangan dan curhat, sama sekali tidak ada nita untuk membela diri atau menggurui.
WAllahu A’lam bissawab, hanya Allahlah yang maha tahu.

Salam

2 komentar:

Anonim mengatakan...

nyindir ki...nyindir...buat yang suka molor siang hari.
*merasa*

Anonim mengatakan...

goOo.. bEgItUuuu... yA yA yA :)